I'm Ok,,, ^ ^



maafkan kali ini aku harus tutupi
ku rasa kau tak perlu tahu bahwa ku sedih
ku hanya bisa tersenyum diam tanpa kata

saat ku bilang i’am ok dalam hatiku menangis
ku hanya ingin kamu yang ada di sisi
saat ku bilang i’am ok sejujurnya ku hancur
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

biarlah sedih ini kuletakkan di benakku
pabila kau bahagia aku juga bahagia
ku hanya bisa tersenyum diam tanpa kata

saat ku bilang i’am ok dalam hatiku menangis
ku hanya ingin kamu yang ada di sisi
saat ku bilang i’am ok sejujurnya ku hancur
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

dan bila ku harus mengakhiri semua ini
sejujurnya aku tak pernah rela

saat ku bilang i’am ok dalam hatiku menangis
ku hanya ingin kamu yang ada di sisi
saat ku bilang i’am ok sejujurnya ku hancur
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu

sejujurnya ku hancur
tetapi maaf ku tak mampu
bukannya aku tak mau
tapi maaf ku tak mampu tuk jujur padamu


Category: 0 komentar

Bunga Terakhir #BebiRomeo #JustSinging


Kaulah yang pertama menjadi cinta 
Tinggalah kenangan 
Berakhir lewat bunga 
Seluruh cintaku untuknya.

Reff : 
Bunga terakhir...
Kupersembahkan kepada yang terindah 
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir... 

Menjadi satu kenangan yang tersimpan 
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
 
Oh... Ho...

 
Betapa cinta ini sungguh berart
i 
Tetaplah terjaga 
Selamat tinggal kasih 
Ku telah pergi selamanya...
 
Back to Reff 

Back to *, Reff  

Category: 0 komentar

Ketika Bandung hujan lagi



Bandung hujan lagi,,
Naima berada dikerumunan orang yang tengah lari mencari teduh..
Naima hanya menatap ke satu arah,
Ke satu orang yg mungkin tak lagi bisa ia lihat,,
Meski kini kegelisahan naima memuncak namun tak ada yang tahu rasa itu yg kian menjadi bahkan ketika dia berada di sampingnya, 
Berada di tengah hujan yang sama..

Banyak kesempatan untuk mengatakan ungkapan hati,,
Tapi semua kata tersapu seketika naima melihat matanya,
Namun naima mengakui,, kekasih hatinya lebih baik tanpa naima..
Dia lebih bahagia sejak naima lepas dari pelukkannya.

Andai saat ini kekasih hatinya itu mengajak naima berlari,
Naima akan berlari dari keadaan dan bersamanya utk seumur hidup,,
Namun itu tak kan mumgkin terjadi,,

Perjalanan terakhir ini begitu menguras hati naima,
Mencoba tersenyum dan ikut tertawa membuat mood naima yang sangat lincah biasanya jadi ingin sendiri,,
Mencoba memframe wajahnya dalam2,
Melihat tawa nya,, lesung pipinya,,
Merdu suaranya bahkan aroma tubuhnya..
Dan akhirnya naima menyerah...

Mencoba bertahan dan mengumpulkan kekuatan utk berwudhu n bersujud memohon pdNya..
"Aku ikhlas,, ikhlas karena bahagia lelakiku meski bukan milikku lagi,,

Aku bersyukur karena melepasmu, aku melihat hidupmu tak terkekang lagi,,

Dear you, my dear,,
Aku mencintaimu dengan segenap rasaku,,
Tak memilikimu mungkin bagian gelapku yang tak bisa terlupakan,, "


Bandung masih dengan hujannya,,
Kami melangkahkan kaki bersama,
Irama berubah makin tak mampu terkendali saat di bandara kala itu,
bandara sore itu membuat airmata naima tumpah,,
Rasany ingin menarik kekasih hatinya berlari,,
Namun sang kekasih hati hanya tersenyum ikhlas..

Naima menatap mata sang lelaki impian,
Penuh keikhlasan tak sepertinya yang penuh kehancuran,,
"Ini sebuah ketetapan Allah,"katanya.
Kalimat yang sedikit namun seperti ketukan palu dalam sidang hidup naima..

Laki2 itu begitu kuat, jauh lebih kuat darinya..

Bandung hujan lagi,,
tak mampu kaki  Naima melangkah melepas genggaman tangannya,,
Namun si lelaki membuat keputusasaan di hati naima,,
Sebuah kalimat yang tak bisa ia tolak,,

Allah,,
Ya Allah,,
Naima sadar Allah adalah pengarang terhebat,,
Namun naima alpha,, egonya mmbuat ia melupakan skenario ini,,
Justru lelaki ini begitu pandai menyingkap kebodohan naima..
Lelaki ini membuat ia sadar,,
Tujuan hidupnya adalah akhirat,, apapun yg tjd adalah semua ketentuan Allah..
Kamu itu jauh lebih indah dari apa yang kamu bayangkan,,
"Aku menyukai pantai,, namun aku tak bisa berenang,,,,
Aku mencintaimu,, namun aku tak mampu memilikimu,,,"


Sekali lagi,, hujan terus menerus membasahi bandung sore itu,,
Naima melangkah n melepas tangan kekasih hatinya dengan hati yang hancur..
Dengan airmata yang tak hentinya mengalir,,
Langkahny makin rapuh menuju pesawat,
Tak dipedulikan lagi orang2 di sekitarnya,
Ia memandang langit bandung untuk terakhir kalinya,,
Tak akan bisa ia menolak takdir ini,,
Menangis dan terus menangis...

Hujan menghilang,,
Bandung juga menghilang diantara awan2 yang beriring,,
Tak mungkin lagi dia dapati lelakinya itu,,
Naima harus tahu diri untuk pamit dari hidup si kekasih hati,,
Airmata naima makin deras mengalir,,

Hingga satu jam penerbangan ia habiskan dengan hujan,, hujan airmata...
Ia mulai sadar, dan mencoba menenangkan hatinya dengan bertayamum di pesawat,,
Ia alirkan iringan2 zikir diseluruh bagian hati dan tubuhnya,,
Namun airmata tetap mengalir,
Bahkan ketika ia melantunkan ayat2 cinta Allah,,
Airmata nya tak berhenti mengalir,,
Dan waktu berlalu,, airmatany terasa kering,,
Namun tak menghentikannya mengalunkan kalimat nan indah dari RabbNya.. Alqur'an ya karreem...

Naima terdiam dalam hati lagi,,
"Allahu Rabb,, engkau tahu hati ini penuh luka,
Aku tahu semua juga tak lebih karena aku tak mampu memanagemen hati,,
Aku lupa tujuan ku hidup,,
Aku merindukan pertemuan denganMu,,
Pertemuan dimana Kau akan menatapku bukan dengan membenciku,, Aku ingin Engkau rangkul ke JannahMu yang indah..


Aku lupa,,
Jika takdirMu demikian,,
Aku harus lebih sadar niatku,,
Surgaku harus aku raih dengan menjadi istri yang solehah,,
Lelaki pilihanMu adalah surgaku,,
Lewat dia surgaku terbuka,,
Lewat anak2 darinya surgaku mulia,,
Karena menjadi ibu dari ank2 yang mulia adalah surga yang Engkau juga janjikan..


Bantu aku ya Rabb,, mudahkan langkahku..
Meskipun lelaki impianku tak mampu ku miliki,
Jadikan aku kuat seperti dia yang ikhlas dengan takdirMu,,

Aamiin Allahumma Aamiin,,,"


Naima menatap langit sore itu dengan penuh harap, ia bisa berubah lebih baik lagi,,
Jauh dari ego dan manja yang tak berguna,,
Sehingga ia kehilangan lelakinya..

"Kau terindah yang pernah ku cintai,
  Tapi tak bisa,, aku miliki...
  Kau terbaik yang pernah ku kagumi,,
  Meski tak bisa aku milikiiii,,,"
"Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan, semua takkan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku,, hanyalah dirimu mampu membuat ku jatuh dan mencinta,, kau bukan hanya sekedar indah,, kau tak akan terganti,," terdengar lirih di samudera awan.. nyanyian rindu untuknya kekasih hati..
Category: 0 komentar

Surat Cinta Naima

Malam itu Naima menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya,,
Mungkin ini adalah malam yang panjang baginya..
Bibirnya keluh menahan airmata yang seharian berteriak ingin keluar.

Dipeluknya boneka teddy bear kesayangannya, dan tumpahlah airmata bak air bah.
Mungkin tak ada yang tahu betapa pandainya ia menyimpan keluh hatinya seharian..
Naima bangkit dan diraihnya telepon genggam di tasnya.



Sketsa wajahnya saat bersama seseorang disampingnya membuat semua rasa mencuat.
'Apa yang kini dalam benakku, bagaimana mungkin menginginkan tapi tak termiliki. Begitu sakitnya hingga ingin rasanya bangun dan berlari ke arahnya, Bagaimana kini aku harusnya? Bagaimana semestinya?' umpatnya dalam hati. 

Sekelebat bayang saat bersama makin menghantui hidupnya.
Hari-hari itu terlalu indah namun sakit untuk diingat dengan ending yang demikian.
Sejak perpisahan kala itu, Naima tak pernah tampak dengan si dia yang kian lama menghilang dengan bayangnya. Naima menjalani hari-hari dengan rasa sakit yang tak mampu ia ungkapkan.
Bagaimanapun ia tak ingin terus-terusan mengutuk keputusannya. Karena segala sesuatu yang terjadi tak pernah tanpa sepengetahuanNya.
Tapi tetap saja sakit,, Sakit rasanya....
'Aku masih mencintainya,'bisik Naima pada boneka besar yang kini dipeluknya erat.
.
 *********

Malam kian larut,
Hanya terdengar dentang jam dinding kupu-kupu menghiasi alunan kesedihan Naima malam itu.
Ya, Naima sangat menyukai kupu-kupu. 
Bahkan ia akan sangat antusias dengan hal-hal yang berkaitan dengan kupu- kupu.
Hingga suatu hari kupu-kupulah yang membuat ia sadar betapa berarti nya 'dia'.

Naima tak berhenti menangis meskipun ia sadar matanya benar-benar bengkak. 
Entah bagaimana besok ia beralasan dengan keluarganya yang kini tengah berbahagia untuknya.

'Naima rindu kamu,,' ucapnya sambil beranjak ke meja kerjanya.
Diambilnya secarik kertas putih di lacinya.
Kini ia harus mengatakan padanya, ia harus atau setidaknya membuang isi hatinya kini.

Waktu kian teasa sunyi,, 
Naima hanyut dalam rangkaian kata demi kata. Rasa yang ia tuang dalam bentuk tulisan.
Hingga akhirnya ia akhiri tulisan itu dengan ucapan perpisahan.
Mungkin ini yang terbaik bagi semua.


*********************************************************************************


Teruntukmu,, 
Untukmu yang tak pernah bisa ku hapus Dalam Memoriku,
Untukmu yang tak akan mampu ku tatap matamu, 

Sungguh aneh,
Ada yang menggumpal,,, 
Perasaan menunggu serta rindu yang menggelayut setiap malam..
Hanya mendengar derap langkah mu dikejauhan 
Tapi aku sadar posisiku, 
Seperti meratap tapi tak berani berteriak....

Taukah kau,,
Suatu malam aku memandangmu dalam mimpi..
Kau penuh dengan luka kebohongan, 
Setiap kesedihan yang kau rasa, kau lumuri dengan tawa.
Aku memarahimu waktu itu, 
aku berteriak di depanmu. Memakimu yang berbohong pada diri sendiri.
Lalu kau meraihku dan menangis sejadi-jadinya.

Aku ingin pergi, karena hatiku begitu rapuh saat airmatamu mengalir dihadapanku,
Tapi kakiku terpaku, aku tak mampu meninggalkanmu malam itu.

Hingga aku terbangun dari mimpi,
Ternyata airmataku masih tersisa....

Adakah kau begitu? 
Adakah kau menderita disana,,
Bagaimana nanti ketika kabar lain kau dengar,, lukamu akan makin jadikah?
Aku benar-benar takkan sanggup membuat lukamu makin parah..

Sayang itu masih milikmu, 
Dulu,, kau tak pernah merasa kehilangan hidupmu saat bersamaku,
Karena bagimu, aku lah hidupmu...
Kita berbagi hidup dan rasanya semua indah..

Tapi kini,, 
Kita kembali kepada jalan takdir yang berbeda,,
Aku telah berpetualang dalam semesta cintamu,
Terima kasih telah mempersilahkan aku singgah dan mengenal duniamu.
Terima kasih kekasih hatiku, 
Tak pernah berhenti aku berdoa untukmu, untuk kebahgiaan mu,,

Suatu hari ketika kau membaca surat ini,
Aku kirimkan lewat rangkaian kata-kataku berjuta permohonan maaf akan kebodohan cintaku,,
Aku terbangkan kupu-kupu cantik yang siang itu kita lihat bersama untuk memberi jalan kebahagiaan untukmu,,

Kupu-kupuku,,
Bahagiakan dia,, Dia tak boleh bersedih lagi,,
Lantunkan di telinganya ayat-ayat Al-qur'an yang slalu kau lantunkan kala kau lara.
Dan jangan kalian pergi hingga sosok wanita terindah itu hadir membahagiakannya...

Kupu-kupuku,,
Juga kau katakan pada lubuk hatiku untuk memaafkan masa lalu,
Membuat seseorang lain bahagia menjadikanku miliknya,,
Bisikkan padaku,, 
"Semua Karena Allah mencintaiMu, Allah tahu yang terbaik untukmu."

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku (nasib-ku) ada di tangan-Mu, telah lalu hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku mohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib disisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku dan pengusir keluh kesahku. (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Bani)

Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku. - See more at: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/#sthash.CUK1jcxb.dpuf
Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku. - See more at: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/#sthash.CUK1jcxb.dpuf
Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku. - See more at: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/#sthash.CUK1jcxb.dpuf
Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku. - See more at: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/#sthash.CUK1jcxb.dpuf

"Selamat Malam My Dear,,"

Yang Selalu Mendoakanmu,
Naima



********************************* THE END ************************************
******************************************************************************* 

Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku. - See more at: http://jilbab.or.id/archives/1028-doa-nabi-di-kala-galau-resah-perasaan-sedih-melanda/#sthash.CUK1jcxb.dpuf



Category: 0 komentar

Ketika Jujur sebagai Mahar ......

Coba Baca yang santai aja.
Dia pergi untuk melamar seorang wanita
.
Disaat dia melakukan nazhar (melihat calon istrinya ) adalah wanita syar'i
.
Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan AlQuranmu ?"
.
Dia menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"
.
Dia lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?"
.
Calonnya menjawab : "Saya hafal juz amma"
.
Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia ( laki-laki yg datang melamar ini ) jujur
.
Setelah menikah...
Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran
.
Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"
.
Mereka lalu memulai menghafal dengan Surat Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran
.
Kemudian istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.."
.
Di sebuah kesempatan ketika dia berziarah kerumah mertuanya, sang suami mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah
.
Mertuanya kaget dengan apa yg dikatakan menantunya, dia lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya
.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengannya
.
SUBHANALLAH....dia tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih (Dia juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya)
.
Ya Allah jika aku bukan orang yg shalihah maka karuniakan kepadaku suami yg shalih yg membantuku, dan menjadikanku dekat dengan Mu, dan jadikanlah aku orang yg shalihah...
.
(Dari fb Ahmad Nashir Hamzah)
Category: 0 komentar

Ketika Mas Gagah Pergi

Pagi itu entah mungkin dilihatnya gadis berkerudung biru tak banyak cakap.
Dia,, tiba2 datang dan memberinya sebuah artikel cerpen yang bermotif hijau dan lili putih kesukaan gadis.
iya,, Si bos yang pagi itu tiba2 memberiku sebuah cerpen yang katanya menarik untuk akhwat sepertiku, (katanya)..

Okey,, mari kita baca...
(Tips,, Bacanya jangan sambil ngapain2.. Nikmati dan rasakan betapa banyak hal yang harus dikoreksi)


Ketika Mas Gagah Pergi

By. Helvi Tyana Rosa 


 
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu’alaikum!"seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.

"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas…"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita…" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.


Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu…"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Category: 0 komentar

Eppi Uyuuuu,,,, ♪(v〃∇〃)ハ(〃∇〃v)♪



Sebuah kutipan kado dari saudari-ku.  Kado sederhana, berupa kalimat doa yang benar-benar tulus, mudah-mudahan ini menjadi sebuah kebaikan untukku. (٥ ˘з˘)~__ː̗̀/

Ya Rabbana, berilah segala kebaikan dan yang terbaik dalam hidup.
Berikan kemudahan dalam setiap aktivitasnya, Karuniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan.
perkenankan apa yang ia cita-citakan.
Tetapkan kesabaran bila menghadapi ujian, kelapangan dalam kesempitan, kemudahan dalam kesulitan, dan jalan keluar untuk setiap permasalahan.

Ya Muhaimin,
Lindungilah ia, jauhkan hal-hal buruk darinya.
Bimbinglah ia selalu, agar senantiasa berada di jalan yang lurus, dan istiqamahkan dalam kebenaran.
Ridhailah ia, berkahi setiap langkahnya, dan jauhkan dari maksiat kepadaMu.
Ampuni dosa-dosanya, dan lindungi dari lupa bersyukur kepadaMu.
Sehingga pada bertambahnya usia, semoga makin bertambah pula derajat ketakwaanya.
Aamiin, Allahumma aamiin.

Ya Rabb, Tiada Tuhan Selain Engkau.
Yang Maha Mengetahui hajat hambaNya, Engkaulah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.
Kabulkanlah doa ini Ya Dzaljalali wal Ikram.
Dan karunikanlah kebaikan yang sama bagi kami yang mendoakannya.
Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin..



Dengan segala puji dan syukur kepadaMu Rabbku,,
Bahkan air laut sebagai tinta menulis kalimat syukurku takkan mampu menulis semua kemuliaanMu.

Jutaan ungkapan dan setiap tetes airmataku takkan mampu juga membalas terima kasihku kepada kalian kedua orang tuaku.. p(´⌒`q)
Terima kasih untuk semuanya,,
Terima kasih untuk kesempatan menjadi gadis kalian,,
Terima kasih untuk semua tetes keringat saat merawatku yang begitu rewel dari kecil bahkan hingga kini.
Terima kasih untuk semua doa yang selalu kalian selipkan dalam setiap sujud panjang kalian.
Entah begitu banyak yang ingin aku ucapkan,, 

Ya Allah,, Limpahkan jutaan cintaMu,, curahkan kesehatan, keselamatan dunia dan akhirat untuk mereka.
Ampuni semua dosa mereka terkhusus karena kami anak2nya yang terlalu sering melukai hati mereka. Atau karena kelalaian kami mengakibatkan mereka ikut terlibat akan dosa kami.

Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin..


Seperempat Abad,,, (>□<)
Kalau kata ayah ini udah usia yang warning..
Sudah usia segitu, prestasi apa yang udah aku lakuin?
Ibadah apa yang aku bisa banggakan kelak saat bertemu Rabbku??
Jujur sempat sedih saat ingat itu,, (p_q)
Semoga sisa usia ini menjadi usia yang bermanfaat bukan hanya untukku tapi juga untuk orang lain.

Dulu saat SMP, aku pernah bermimpi ngadain milad d panti asuhan.
Doa bersama, makan bareng.
Tapi tradisi dirumah kalo hari milad, malam nya ayah ngajak doa bersama setelah shalat Maghrib.

Berhubung sekarang di kota orang,
Alhasil aku kepikiran buat ngadain impian yang lama tersimpan..
Kebetulan yang sangat pas,, Milad aku tahun ini bertepatan dengan Bulan suci Ramadhan.. o(≧▽≦)o♪
Jadi kepikiran buat buka bersama di Panti asuhan di Medan..

Alhamdulillah terlaksana dengan lancar,,
Terima kasih buat Mb widya, Rini dan Indra yang udah banyak bantu,,
dari nemenin beli kue, beli souvenir alat tulis dan beli nasi kotak,,
Jazakallah Khairon Katsiron  (*^o^)/\(^-^*)
Panti Asuhan Bani Adam


Jujur walaupun begitu berkesan milad ni,, 
masih ada saja yang mengganjal di hati,,
Rasa nya perih namun ntahlah kenapa,,,
Dan Allah sebaik2 pengobat Hati. Yang paling tahu rasa sakitnya.. (╥﹏╥)

Alhamdulillah,, tanggal itu ditutup dengan rasa ngantuk yang luar biasanya.
Terima kasih buat semua doa dan ucapan dari semua teman..
Doa yang sama untuk kalian, 
Aamiin Ya Robbal 'alamin...

Besok nya, 
Udah lemes aja karena panasnya Medan yang luar biasa..
Mungkin karena Gunung Sinabung lagi kontraksi, 
Jadinya seMedan raya berasa kayak oven semua...

Udah lemes banget sampe bisa tidur di kursi ( Sebenernya aku ngga bisa di kursi,, mungkin saking capeknya,,, hihihihi... ). Terus sebelum Dzuhur dapet surprised party dari Rini, Bertha, mb deli dan mb wid..
Hahahaha,, walaupun aku udah bisa nebak... 
Tapi Syukran ya beb,,, 
Kado 'n kue nya sangat spesial,, 






 

Category: 0 komentar