Ketika Jujur sebagai Mahar ......

Coba Baca yang santai aja.
Dia pergi untuk melamar seorang wanita
.
Disaat dia melakukan nazhar (melihat calon istrinya ) adalah wanita syar'i
.
Calon istrinya bertanya : "Berapa hafalan AlQuranmu ?"
.
Dia menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi SAYA INGIN MENJADI LELAKI YANG SHALIH"
.
Dia lalu berkata kepada calon istrinya : "Kalau kamu ?"
.
Calonnya menjawab : "Saya hafal juz amma"
.
Calonnya kemudian sepakat untuk menikah karena merasa dia ( laki-laki yg datang melamar ini ) jujur
.
Setelah menikah...
Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal AlQuran
.
Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?"
.
Mereka lalu memulai menghafal dengan Surat Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qurannya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran
.
Kemudian istrinya menawarkan : "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.."
.
Di sebuah kesempatan ketika dia berziarah kerumah mertuanya, sang suami mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya sekarang sudah hafal AlQuran Al Karim, Alhamdulillah
.
Mertuanya kaget dengan apa yg dikatakan menantunya, dia lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya
.
Sontak dan alangkah kaget dan bingungnya sang suami, Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Alquran dan Kutub Sittah (kumpulan kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengannya
.
SUBHANALLAH....dia tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih (Dia juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya)
.
Ya Allah jika aku bukan orang yg shalihah maka karuniakan kepadaku suami yg shalih yg membantuku, dan menjadikanku dekat dengan Mu, dan jadikanlah aku orang yg shalihah...
.
(Dari fb Ahmad Nashir Hamzah)
Category: 0 komentar

Ketika Mas Gagah Pergi

Pagi itu entah mungkin dilihatnya gadis berkerudung biru tak banyak cakap.
Dia,, tiba2 datang dan memberinya sebuah artikel cerpen yang bermotif hijau dan lili putih kesukaan gadis.
iya,, Si bos yang pagi itu tiba2 memberiku sebuah cerpen yang katanya menarik untuk akhwat sepertiku, (katanya)..

Okey,, mari kita baca...
(Tips,, Bacanya jangan sambil ngapain2.. Nikmati dan rasakan betapa banyak hal yang harus dikoreksi)


Ketika Mas Gagah Pergi

By. Helvi Tyana Rosa 


 
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu’alaikum!"seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.

"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas…"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita…" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.


Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu…"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Category: 0 komentar

Eppi Uyuuuu,,,, ♪(v〃∇〃)ハ(〃∇〃v)♪



Sebuah kutipan kado dari saudari-ku.  Kado sederhana, berupa kalimat doa yang benar-benar tulus, mudah-mudahan ini menjadi sebuah kebaikan untukku. (٥ ˘з˘)~__ː̗̀/

Ya Rabbana, berilah segala kebaikan dan yang terbaik dalam hidup.
Berikan kemudahan dalam setiap aktivitasnya, Karuniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan.
perkenankan apa yang ia cita-citakan.
Tetapkan kesabaran bila menghadapi ujian, kelapangan dalam kesempitan, kemudahan dalam kesulitan, dan jalan keluar untuk setiap permasalahan.

Ya Muhaimin,
Lindungilah ia, jauhkan hal-hal buruk darinya.
Bimbinglah ia selalu, agar senantiasa berada di jalan yang lurus, dan istiqamahkan dalam kebenaran.
Ridhailah ia, berkahi setiap langkahnya, dan jauhkan dari maksiat kepadaMu.
Ampuni dosa-dosanya, dan lindungi dari lupa bersyukur kepadaMu.
Sehingga pada bertambahnya usia, semoga makin bertambah pula derajat ketakwaanya.
Aamiin, Allahumma aamiin.

Ya Rabb, Tiada Tuhan Selain Engkau.
Yang Maha Mengetahui hajat hambaNya, Engkaulah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.
Kabulkanlah doa ini Ya Dzaljalali wal Ikram.
Dan karunikanlah kebaikan yang sama bagi kami yang mendoakannya.
Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin..



Dengan segala puji dan syukur kepadaMu Rabbku,,
Bahkan air laut sebagai tinta menulis kalimat syukurku takkan mampu menulis semua kemuliaanMu.

Jutaan ungkapan dan setiap tetes airmataku takkan mampu juga membalas terima kasihku kepada kalian kedua orang tuaku.. p(´⌒`q)
Terima kasih untuk semuanya,,
Terima kasih untuk kesempatan menjadi gadis kalian,,
Terima kasih untuk semua tetes keringat saat merawatku yang begitu rewel dari kecil bahkan hingga kini.
Terima kasih untuk semua doa yang selalu kalian selipkan dalam setiap sujud panjang kalian.
Entah begitu banyak yang ingin aku ucapkan,, 

Ya Allah,, Limpahkan jutaan cintaMu,, curahkan kesehatan, keselamatan dunia dan akhirat untuk mereka.
Ampuni semua dosa mereka terkhusus karena kami anak2nya yang terlalu sering melukai hati mereka. Atau karena kelalaian kami mengakibatkan mereka ikut terlibat akan dosa kami.

Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin..


Seperempat Abad,,, (>□<)
Kalau kata ayah ini udah usia yang warning..
Sudah usia segitu, prestasi apa yang udah aku lakuin?
Ibadah apa yang aku bisa banggakan kelak saat bertemu Rabbku??
Jujur sempat sedih saat ingat itu,, (p_q)
Semoga sisa usia ini menjadi usia yang bermanfaat bukan hanya untukku tapi juga untuk orang lain.

Dulu saat SMP, aku pernah bermimpi ngadain milad d panti asuhan.
Doa bersama, makan bareng.
Tapi tradisi dirumah kalo hari milad, malam nya ayah ngajak doa bersama setelah shalat Maghrib.

Berhubung sekarang di kota orang,
Alhasil aku kepikiran buat ngadain impian yang lama tersimpan..
Kebetulan yang sangat pas,, Milad aku tahun ini bertepatan dengan Bulan suci Ramadhan.. o(≧▽≦)o♪
Jadi kepikiran buat buka bersama di Panti asuhan di Medan..

Alhamdulillah terlaksana dengan lancar,,
Terima kasih buat Mb widya, Rini dan Indra yang udah banyak bantu,,
dari nemenin beli kue, beli souvenir alat tulis dan beli nasi kotak,,
Jazakallah Khairon Katsiron  (*^o^)/\(^-^*)
Panti Asuhan Bani Adam


Jujur walaupun begitu berkesan milad ni,, 
masih ada saja yang mengganjal di hati,,
Rasa nya perih namun ntahlah kenapa,,,
Dan Allah sebaik2 pengobat Hati. Yang paling tahu rasa sakitnya.. (╥﹏╥)

Alhamdulillah,, tanggal itu ditutup dengan rasa ngantuk yang luar biasanya.
Terima kasih buat semua doa dan ucapan dari semua teman..
Doa yang sama untuk kalian, 
Aamiin Ya Robbal 'alamin...

Besok nya, 
Udah lemes aja karena panasnya Medan yang luar biasa..
Mungkin karena Gunung Sinabung lagi kontraksi, 
Jadinya seMedan raya berasa kayak oven semua...

Udah lemes banget sampe bisa tidur di kursi ( Sebenernya aku ngga bisa di kursi,, mungkin saking capeknya,,, hihihihi... ). Terus sebelum Dzuhur dapet surprised party dari Rini, Bertha, mb deli dan mb wid..
Hahahaha,, walaupun aku udah bisa nebak... 
Tapi Syukran ya beb,,, 
Kado 'n kue nya sangat spesial,, 






 

Category: 0 komentar

Edisi Jalan2 di Dunia Youtube

Lagi iseng buka youtube dan nemuin video klip lagu..
Lagu yang memang dari akhir tahun 2012 begitu nyentuh dengernya..

Video berputar dan sebuah untaian kalimat begitu menyentuh :
Saya bukan pujangga,
Bukan pula manusia sempurna
Namun, inilah persembahanku
Untukmu jiwa yang ku pilih
Tak ada gombalisme
Hanya untaian doa untukmu





Gini nih lirik lengkapnya bait lagu ini...

Alief - Maharku Untukmu

Inilah maharku untukmu
Seperti ini ku mampu
 Sepenuh hatiku berikan 
Sebagai wujud cintaku..

Maharku untukmu
tulus kuserahkan
Kepada dirimu satu yang kupilih









 Maharku untukmu Aku karunia 
yang Allah berikan untukmu

Terimalah sebaris doa
Semoga engkau bahagia 

Dan ku Nyanyikan lagu ini
Persembahan Cinta suci




#http://youtube.be/4WO0s1JBeW4
Category: 0 komentar

Nggak Ngerti




Di sendiriku,,
Hati ini tlah melukis cinta,,
Yang Kuingini,,
Yang saat ini ku tak tahu dimana,,
Dimanakah kau kini???

Sesungguhnya,,,
Aku kangen kamu,,
Dimana dirimu??

Aku nggak ngerti..

Dengarkanlah,, 
Kau tetap terindah,
Meski tak mungkin bersatu...

Kau slalu ada di langkahku.....


Mengapa harus keyakinan memisah cinta kita,,
Meski cintamu Aku...

Sesungguhnya,,,
Aku kangen kamu,,
Dimana dirimu??

Aku nggak ngerti..

Dengarkanlah,, 
Kau tetap terindah,
Meski tak mungkin bersatu...

Kau slalu ada di langkahku.....

 


Category: 0 komentar

Nak, Sebelum Kamu Hidup Bersama Putriku di Masa Depan, Mau Kah Kamu Membaca Pesanku Ini?

Teruntuk orang yang akan menemani putriku, 
yang akan menua bersama hingga maut datang menjemput.
 
"Kalau kamu mengerti,,
Aku akan tenang mempercayakan putriku padamu,,"







 
Halo, nak. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi aku tahu bagaimana efek kehadiranmu di hidup putriku karena aku melihat ada perubahan di diri putriku.

Tahukah kamu kalau dia jadi lebih lama ketika mandi?
Aku tahu setiap kali ia membawa berbagai produk kecantikannya masuk ke kamar mandi, dia pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi.

Tahukah kamu dia menghabiskan waktunya di depan laptop untuk belajar membuat masakan kesukaanmu? Satu kali, dua kali, tiga kali dia mencoba dan aku serta istriku dan seisi keluarga sering jadi kelinci percobaannya.

Tahukah kamu bahwa dia sering grogi sebelum pergi bersamamu?
Dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya cuma memilih baju terbaik dan dandan secantik mungkin. Padahal menurutku, apapun yang dipakai putriku, ia selalu terlihat cantik.

Tahukah kamu bahwa dia sering pulang, masuk ke rumah dengan senyum yang sangat lebar setiap kali pulang dari pergi bersamamu? Senyum itu dulu cuma jadi milikku dan istriku, ketika kami membelikannya boneka kesukaannya. Senyum itu cuma jadi milikku dan istriku ketika ia tampil di pentas sekolah dan berhasil menemukan kami di tengah keramaian.
Aku tidak marah, aku juga tidak iri. Aku tahu, suatu hari momen ini akan datang.
Momen dimana aku akan memegang tangannya untuk yang terakhir kali dan menyerahkannya kepadamu. Momen dimana aku akan pensiun jadi pahlawannya dan kamu yang akan menggantikan peranku itu. Walau aku tahu, dia akan selalu menganggapku sebagai pahlawan nomor satu dalam hidupnya. Tapi percayalah, nak. Dia juga akan mengandalkan dirimu.






 Jadi, aku cuma ingin berpesan.
Maafkan kalau aku memang cerewet, tapi percayalah, istriku bisa menulis sebuah novel 1.000 halaman dan aku mungkin hanya akan menulis dua sampai tiga halaman saja.

Nak, putriku mungkin bukan perempuan paling sempurna yang akan kamu temui di dunia, dia juga bukan perempuan paling cantik yang mungkin hadir di hidupmu. 
Tapi kamu harus yakin dan percaya sebelum menghabiskan sisa hidupmu bersama dirinya, dia lah satu-satunya perempuan yang memang pas dan cocok untuk hidup bersamamu setiap hari. 
Yakinkan dirimu bahwa dia satu-satunya perempuan yang bisa membantumu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih baik dan lebih dewasa setiap hari. 
Aku tahu, hidup kalian nanti tidak akan selalu penuh dengan tawa seperti yang kalian jalani sekarang, tapi aku ingin kalian berdua tetap memegang erat tangan satu sama lain, jangan pernah lepaskan, sehebat apapun badai yang menerpa kalian.


Tolong pertahankan senyum lebar yang selalu ia pasang setelah bertemu dirimu, karena aku dan istriku tidak akan selalu di sana untuk membuatnya tersenyum.
Tolong bantu dia untuk berdiri dan berjalan, bahkan berlari ketika dia terjatuh seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia masih jadi putri kecil kami.
Tolong tegur dan peringati putriku kalau dia memang berjalan ke arah yang salah, seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia salah mengambil jalan dalam hidup.

Yang terpenting, buat putriku selalu merasa dia berada di rumah ketika bersamamu. Tidak ada yang lebih penting selain rumah karena di sana tempat kalian berteduh, berlindung dan berkumpul bersama. Rumah adalah tempat pelarian terakhirmu. Buat dia nyaman, buat dia bahagia karena aku dan istriku tidak akan selalu di sini untuk membahagiakannya. Aku tidak bisa memberikan cinta seperti yang kamu berikan kepadanya, jadi aku yakin kamu punya kemampuan untuk mengerti dirinya.
Baiklah, aku sekarang sudah terdengar seperti istriku. Terima kasih sudah mendengarkan pesan panjangku ini. Aku sudah lebih lega sekarang seraya melihat kalian berdua menua bersama-sama.

Ditulis penuh rasa syukur dan bahagia,
Calon Ayah Mertuamu.






Category: 0 komentar

Episode Bertani Bunga Lili Putih






Berhubung ngga sengaja alias tergoda ngeliat Bunga Lili di Berastagi,,
Alhasil sore itu, aku dan Monic malah jadi belanja Bibit dehh...


Berawal dari ngeliat di tv, bunga ini udah bikin aku suka banget..
Memang ngga sewangi Bunga Mawar tapi ada pesona yang berbeda dari Bunga ini..
Makanya pas jalan ke berastagi, ngeliat bunga ini kayak ngeliat artis aja,, hihihihii...
Langsung deh kefikiran buat beli bibitnya..
Niatnya sih dikirim ke Palembang, namun sayang banget Jne nya ngga mau...
Katanya harus pake surat dari Balai Karantina segala...

Yawes lah, daripada terbuang. Mending kita coba aja...

Bunga lili atau bisa disebut bunga bakung, adalah bunga yang tersebar di dataran Eropa, Asia dan benua lainnya. Bunga lili memiliki lebih dari 100 spesies yang dapat hidup di tempat pegunungan, dataran rendah bahkan ada yang dapat hidup di rawa. Benih bunga lili saat ini sudah banyak dikembangkan sehingga dapat ditanam di banyak negara dan diteliti lebih lanjut guna mendapatkan jenis baru dan dikajimanfaatnya. Bunga lili merupakan tanaman hias unik yang memiliki aneka warna diantaranya putih, merah, kuning, orange dan lainnya. Daun bunga lili berwarna hijau tua, bunga ini menyerupai terompet, memiliki minimal enam helai kelopak dan kelopak bunga tersebut halus dan beberapa spesies terdapat titik-titik pada permukaan kelopak bunganya. Bunga lili umumnya dapat tumbuh hingga 120 cm tergantung perawatan dan spesiesnya.


Bunga lili merupakan bunga yang banyak diminati terutama sebagai bunga potong dan bunga hias. Banyak acara pernikahan menggunakan bunga lili terutama lili putih karena bunga ini memiliki arti cinta yang abadi, keabadian, kesucian. Bunga yang memiliki makna yang romatis ini tidak salah dipilih sebagai bunga tangan yang populer untuk menunjukkan perasaan pengirim ke penerima sehingga tidak sulit mendapatkan bunga ini. Selain sebagai bunga potong bunga lili dapat dimanfaatkan sebagai penghilang bekas luka, lili juga digunakan sebagian produk kecantikan terutama perawatan kulit karena lili dapat melembabkan kulit dan menjaganya tetap halus dan tidak kering.

Cara menanam bunga lili adalah dengan menanam benih yang terlebih dahulu direndam di dalam air selama 12 hingga 24 jam. Kemudian benih bunga lili tersebut disemaikan di media yang tepat, setelah berkecambah dapat dipindahkan ke tanah kemudia siram dan jaga agar tanah selalu lembab jangan sampai mengering tetapi jangan tergenang karena bisa menyebabkan tanaman lili membusuk. Jangan lupa merawat bunga ini diberi pupuk minimal 2 minggu sekali dan bila bunga ini tumbuh diberi penahan agar tidak bengkok karena tanaman ini mudah runtuh bila tertiup angin yang kencang...
#http://benihbunga.net/blog/mengenal-benih-bunga-lili/

Okeyy,, Bismillahirohmanirohim,,,,
Semangaatttt,,,

Category: 0 komentar

Cinta yang Tak Mungkin


Ku pejamkan mata ini...
Ku tertidur tanpa lelah....
Tapi ku bermimpi...
Kau jadi milikku....

Suaramu tetap bernyanyi..
Walau sadarku kian tak ada...
Namun Ku bahagia...
Lagumu milikku...

Indah senyumanmu..
takkan bisa pudar...
makin indah di hatiku...
walau kusadari...
Cinta yang tak mungkin jadi....

Apa pun yang kau ciptakan
Ku akan berjuang dapatkan
Jika kau bahagia
Aku smakin bahagia

Indahnya wajahmu
takkan bisa pudar
makin indah dihatiku
walau ku sadari
cinta yang tak mungkin jadi

Meski ku takkan bisa
memiliki dirimu
takkan ku berbalik pergi

Indah senyumanmu
takkan bisa pudar
makin indah di hatiku
walau ku sadari itu
Cinta yang tak mungkin jadi

Meski ku tak bisa memiliki dirimu
takkan ku berpaling pergi
makin ku mencintai
Ku lepas kau kekasih
Biar terbang tinggi

Cinta yang tak Mungkin...
Terbang Tinggi....
Category: 1 komentar

Yogya ohhh Yogyaa ♪(*^ ・^)ノ⌒☆

Alhamdulillah,,,
Salah satu list tempat liburan yang dulu aku pengen datengin tercapai...
Terima kasih Kereta Api,,,, (´з(˘⌣˘)

Dulu waktu kecil, 
Aku rada iri liat mbakku yang study banding ke yogyakarta..
Dan aku selalu paling excited dengerin kak henny cerita...

Pernah nyaris kesampean kesana,,, eh ehhh batal...
Cukup sadar diri deh,, kasian ayah kalo harus nyiapin dana segitu..
Untung aku cukup pinter ngerayu,,, alhasil aku ajakin beberapa temen buat ngga ikut.
Alhamdulillah bisa KKL di Tanjung Enim.. PT. Bukit Asam (Persero)
Dan dana pun nggak minta ke ayah karna ada sedikit tabungan beasiswa buat bayaran.

Ok lahh,, itu cerita singkat ternyata betapa susahnya buat bisa ke kota ini...
Dan lagi Alhamdulillah, 
Mimpi ini terwujud setelah kerja.. Dan ini pun tanpa dana orang lain..
Rasanya lumayan membahagiakan lah...

Perjalanan pun dimulai dengan kereta api Krakatau...
Kalau ngga salah,, tanggal 01 Februari 2014.. (٥ ˘з˘)~__ː̗̀/

Sebenarnya waktu malem berangkatnya aku udah ngerasa demem n flu berat..
Yahh,, yang namanya juga udah pengen.. Pastilah di paksa..
Perjalanan yang begitu melelahkan sampe jam 11 malem di Stasiun Lempuyangan..
Untung si Ferdiana satu kereta yang sama.. Memang cuma beda gerbong..

Oh ya,, team traveling kali ini.. 
Aku dan temen2 dari miss2 kereta api.. 
Diana, Novi, Lidia, Kak Marta dan Ali.. (*´∀`)人(´∀`*)
Ketemuannya sih di stasiun Tugu.
Aku dan diana di lempuyangan langsung ke Stasiun Tugu yang sudah ada Lidia dan Noviarni serta Ali yg lagi dapet jatah piket Boarding malam.
Itulah gunanya mutasi,, kami disambut teman sesama palembang yang ada disana.. (*’∀^)ハ(^ω^*)

Lanjut tidur malam di Hotel yang udah di cari sama Novi dan Ali..
Lumayan lah,, ngga tidur alias ngerumpi ala miss kereta api,,, (―˛―“)

Besok paginya di anterin sarapan Gudeg khas yogya yang sama sekali ngga ak sentuhh..
Oaaalaaa, Muanisss banget... (T_T)
Ini lidah kontraksi bgt.. Alhasil cuma sarapan teh manis sambil ngobrol sama resepsionisnya.
Si resepsionis nya nawarin paket liburan dari mereka..
Alhasil,,, di mulailaah perjalanan kita di Yogyaaa...

Pertama kami mengunjungi Candi yang terkenal di Indonesia... Candi Prambanan..
Sebenernya pgen k Borobudur,, tapi wes.. Toh sama aja... 
Sekedar saran sih, pas kesana mending kalian bawa payung..
Karena panas banget tempatnya, tapi kalo mw nyewa juga ada banyak yang nyewain ko.







Berhubung udah laper, kami melanjutkan perjalanan mencari makan siang..
Ada restoran yang dekat dengan lokasi ini,, namanya Opak Resto kalo gk salah...
Udah lama banget ini moment soalnya... View nya lumayan buat dinikmatin bareng keluarga.
Kita makan d pinggir aliran sungai yang tenang banget...
 
Next, setelah ngecas perut.. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pantai...
Not Bad lah,, Kami ke parangtritis.. 
Tapi sebelumnya kami sempet mampir di salah satu tempat..
wuihh lupa aku nya,, 
Tapi ini tempat biasa di pake buat prawedding n dari sini kita bisa denger suara ombak yang merdu bgt.
Yaudah,, selanjutnya ke pantaaaaaaaiiiiii,,,, ε=ε=(ノ≧∇≦)ノ

 Maen2 air,, ombaknya itu lumayan gede.. 
Bahkan waktu berdiri disitu,, berasa di tarik ajaaa... 
Setelah capek maen air,, kami langsung pulang karena sunsetnya nggak nampak.
Lanjut ke Beringin kembar...
Disana kami main2,, siapa yang bisa melewati beringin kembar nggak miring2 maka apa yang dia pikirkan waktu berjalan akan menjadi nyata... (Katanyaaaa,,, Jgn terlalu di percaya ya,,)
Diana dan Novi berkali2 nyoba dan berkali2 juga gagal,,, wkwkwkwkwk...

Alun2 dsini memang rame banget kalo malem...
Suasana nya enak banget kalo lagi jalan sama keluarga,,, 

Lagi iseng jalan disekitar alun2... 
ehh,, ketemu Manager di Kantor Pusat kemarin...
Sama2 orang palembang jugaa,, Jadinya kita dapet makan gratis dehh dari Pak Khusosi,, hehehehe




Pas pulang niatnya, kita pengen ke Malioboro dulu..
Tapi Astaghfirullah... 
Padeeeeet banget manusia yang dateng...
daripada ada apa2 nantinya.. Kami mikir mending istirahat aja n besok lagi deh jalan kesana..

Memang sih pas pagi lebih sepi, tapi lumayan lah..
Toh yang beli oleh2 kan cuma lidia..

wess,, segitu aja pkoknya travelingnya..
Selanjutnya, aku dan Diana pulang dengan KA yang sama....

Bye2 Yogya,, Nanti kita balik lagii,, 
Karena perjalanan nya bner2 nggak berasa apapun.. (Sbnrnya Modus nya masih pengen jalan,,,)
Category: 0 komentar

(O_o)*!! ???????

Kali ini simpel,,
Seringkali seneng kalo ngeliat temen2 udah pada married,,,
Yaah, walaupun banyak diantara mereka yang aku nggak bisa hadiri...

Tapi dr sini cuma bisa berdoa buat mereka.
Semoga Allah menaungi rumah tangga dengan keberkahan,,,
Rumah tangga yang dihiasi cinta illahi,,
Yang didasari akhlak sehingga kelak akan lahir malaikat2 kecil yang soleh dan solehah...
Aamiin Allahumma Aamiin....

Nahhh,,, pertanyaannya sangat simpel...
Kadang kalo lagi rajin, berani buat nanya..

"Dasar apa yang buat kamu yakin memilih Dia sebagai pasangan hidupmu?"
"Kenapa harus dia? Sudah seberapa yakin kalau dia bisa menjadi seseorang yang kelak engkau patuhi melebihi kedua orang tuamu????"
"Terus udah yakin dia bisa sabar ngadepin sikap kamu?"
"Apa kamu nggak takut apa kamu bisa akrab sama keluarganya, dia bisa dekat dengan keluargamu??"

Jawaban mereka para calon pengantin...

"... (diam sejenak). Nggak tahu ya.. Karena hatiku udah yakin za.." ( = =)

\(‾o‾ \) ~ ~ ~ ː̗̀◄—{>,( `ε´ >) =3

arggghhhh....
Dan lagi pertanyaanku tak terjawabkan... (T^T)
hikssss... 
 
Category: 0 komentar

My Medan,,, My Adventures,,, \(≧∇≦)/

Kali ini aku pengen banget share tempat2 yang udah aku dan temen2 datengin di kota sejuta wisata...

Jujur dari lubuk hati ini, kadang terucap rasa terima kasih dengan R6ku..
Yaahh,, walau katanya mirip security (bahasa kerennya,,, (>_<)”)
Dengan seragam ini, aku yang biasa mainnya nggak jauh dari kota asalku, Palembang. Sekarang malah jadi hobi menjelajahi wisata di Indonesia (Walaupun belum semuanya,,hehehe... )

Kemarin,,, dengan bangganya si R6 bisa bawa aku ke kota2 di Pulau Jawa...
Wuiiihhhh,, kereen kan...
Walaupun belum semuanya.. Nanti deh kalo sempet aku posting perjalanan yang singkat namun berkesan banget... Thanks My Rabb.... ( ♥͡▽♥͡ )

Kali ini R6 alias seragam ini berhasil membawaku ke kota yang terkenal dengan Bika Ambonnya..
Yuhuuuu,,, (^o^)V  Medan Sumatera Utara,,, 

……………….. ,——,
………………. =\ …..\
..,—,…………. =\ …..\
..|.C~ \ ……….. =\ …..\
..|……. `———— ‘——’———–,
.,’…. LI,-,LI. LI. LI . LI .. LI . LI ,-,LI`-,
.\ _/,____|_|______,——,_____|_|__)
…………………… /……/
………………… =/……/
……………….. =/……/
………………. =/……/
……………….. /____, -


Baru datang, tepat tanggal 30 Agustus 2014 di Kualanamu International Airport...
Aku udah di sambut dengan kemewahan Bandara yang mewah,,, belum lagi dengan laut yang tadi sempat aku lewati dengan pesawatku...
Sebenarnya karena mutasi yang mendadak,, jadinya rada campur aduk rasanya...


Lanjut deh,,
Minggu pertama, kami udah jalan2 ke water world di CBD yang lumayan bikin telinga sakit..
Baru datang aja,, arsitektur nya keren banget..
Yahh kalau boleh jujur memang rada mahal sih..
Kalau tahun 2014, kami satu orang patungan Rp100rb.. Belum termasuk sewa ban yaa...
Tapi kami pake hemat alias sewa ban nya satu aja,, terus nunggu aja kalo ada pengunjung yang udah pulang. Biasanya ban mereka tergeletak gitu aj..

teruuuss,,,
Yaaa teruuus dengan muka polos ambil aja...
Hahahahahahahaaa,,,,,

(ˇ▼ˇ)-cԅ(ˆoˆԅ)
Nikmatin deh sensasi nya..
Ada ombak, yang kata mereka tsunami..
Tapi kudu denger sirene dulu yaa... 


















Next Destination,,,,,

Wisata selanjutnya,,, Air Terjun Dwi Warna di Sibolangit




Team kita saat itu,,,
Babang Acim, Mb widya, Me, Aya, Mas Rey 'n Babang Rendy....

Perjalanan ini tanggal 27 September 2014,,,
Jarak tempuh kalo dari Medan sekitar 2 Jam perjalanan darat ke pintu masuk Bumi Perkemahan Sibolangit dan sekitar 3 jam berjalan kaki menuju air terjunnya. Kalo kami kemarin malah sampe 4 jam.. Maklum,, banyak ngabisin waktu dengan istirahat, foto2 dan menikmati suasana alamnya. Sampe guide kita waktu itu geleng2 aja liat kami,,, hahahahahaaa,,,, (˘ з ˘)

Oh iya,, nanti pas sampe pintu masuk,, bagusnya kita ngisi absen dulu terus mesen guide buat diatas..
Lupa sih harganya berapa, kalo nggak salah sih sekitar 200 ya.. 
Selain itu persiapan ke atas memang nggak kayak kita ke gunung. Tapi seenggaknya jgn pake sepatu atau sandal yang buat jalan yaa,, Habisnya kita trecking,, jalannya licin dan lebih kurang mirip naik gunung.. Cukup Aya aja deh yang sandal nya putus,, hhihihihi.... (#^o^#)

ini nih beberapa aksi foto2 disana,,,

charlie angel versi divre 1




Cuapeek Reekk, Istirahat lagi... 


Lewat Sungai juga 
Edisi Turun pake Tali, Pas udah d tengah baru berani foto lagi... Maklum... (~‾ ▽‾)~





4 Jam Kemudian....

Jreeeeeng Jreeeeengggg,,,,, ╭(^▽^)╯ \(^o^)/


Edisi udah sedikit diedit


Seperti namanya "Air Terjun Dwi Warna",,, Air terjun ini merupakan air terjun dengan dua warna yaitu biru muda dan putih keabua2an. Katanya sih, karena ada kandungan phospor dan belerang yang menghasilkan warna biru muda dan karena itu juga jangan diminum yaa.... Tinggi air terjun ini 100 meter dengan air yang bersumber dari Gunung Sibayak. 

Ada yang istimewa di sini...
Air terjun nya ada dua.. Yang berwarna biru ini dingiiinnn nya pake bangeeet... 
Sampe babang rendy kagak jadi berenang... Kami yang jahil nyiram air ke dia,, 
lucunya badannya langsung gemeteran,, hhahahaha...(つ∀`)
Babang,,, Babang,,, 
Udah capek2 kesana tapi nggak main air,,,┓( ̄∀ ̄)┏




Nah yang satunya warna hijau yang airnya hangat,,
Lebih kurang kayak diatas itu tapi berhubung fotonya di laptop jadi yang di share yang ini deh...
Cobain deh,,, Seru alias amazing 'n tetep Subhanallah...



Edisi Iklan Susu Elemen yang gagal wkwkwk (>□<)



Nah ini tempat yang hangat buat bilas dari yang dingin2... 

Oooppss lupa ngenalin guide kami,,, Lupa juga namanya...
Kalian jangan takut laper,,
Disana juga ada yang jualan popmie sama minuman hangat.
Tapi yang jual satu, Buruan, soalnya takut keabisan... Gk kebayang bawa byk jualan kayak gitu. 
Kami bawa badan aja udah kayak nenek2 alias badan pegel,,(*- -)(*_ _) 

Trs jangan lupa bawa air,, kalo rajin ya bawa makanan sendiri aja.. 
Ok guys,, 
Lain waktu aku share lagi wisata lain di Medan...
My Medan,, My Adventures Part. 2... Edisi Berastagi, Danau Toba dan Samosir... okeyy (‘-^*)



Category: 0 komentar