Jadi Kapan????????????


 Kalau saya melontarkan pertanyaan di atas pada Anda yang belum menikah tapi sudah ada rencana, tentunya jawabannya berkisar seperti ini:
“Oh nanti abis Lebaran.  Iya nih lagi pusing banget ngurusin vendor kawinan.  Eh waktu elo, kateringnya apa ya bok?”

Dan terjadilah diskusi lincah soal perhelatan pernikahan.

Nah tapi kalau Anda, seperti juga saya, pernah mengalami ditanya seperti ini saat pacar saja tak punya atau mungkin pacar punya namun tak jelas mau dibawa ke mana hubungan kita… 
tentunya " Jadi Kapan?" adalah pertanyaan  selalu dibenci para single.

Kalau dalam keadaan tak punya pacar, mungkin bisa enak menanggapi dengan, 
“Yah, pacar aja gak punya, mau nikah sama siapa?”  

dan si penanya pun akan melipir dan tak bertanya-tanya lagi.  Paling nggak enak adalah ditanya seperti itu, di acara kondangan saat kita hadir dengan pacar yang sudah dipacari bertahun-tahun.  Inilah yang menyebabkan timbulnya sindrom malas ke kondangan di usia-usia tertentu, karena…

…SEMUA orang berharap Anda menjawab dengan tanggal, bahkan mungkin mereka ingin Anda langsung bagi-bagi undangan di tempat. 

Saya bahkan dulu sering berkhayal untuk menjawab pertanyaan “Jadi Kapan” ini dengan mimik muka terkejut sambil bilang,
 “Eh masa gak tau?  Kami udah nikah lama, lagi.  Tuh si sulung udah SMA.”  
Ya tentunya niat buruk menjawab seperti ini tak pernah terlaksana sih. hihihihi,,,,,

Nah, mari mengaku.  Kita sering merasa terganggu dengan pertanyaan “Jadi, kapan?” itu karena sebenarnya di lubuk hati terdalam pun kita ingin bertanya hal yang sama kepada pasangan kita.  Kalau diteriakin kira-kira bunyinya mungkin begini:

“JADI KAPAN SIH KAMU MAU NIKAHIN AKU, SAYANG???”

Tentunya tak dilakukan karena perempuan modern enggan terdengar desperate.  Akhirnya kita menggunakan cara-cara ribet seperti ‘mancing’.  Kalimat klasik pemancing biasanya adalah: 
 “Kamu serius gak sih sama aku?”

Jreng. 

Hayooo… siapa yang pernah nanya kayak gitu ke pasangannya?
Lalu apa jawaban dia?  Ya tentu ini: “Aku kalo pacaran itu selalu serius.”
Atau ada pula yang mendadak defensif: “Kenapa sih tiba-tiba nanya begitu?”
Jika pasangan Anda tipe penjawab yang kedua, maka dipastikan setelah itu biasanya sih berantem.  Yang perempuan kesal karena si lelaki nggak nangkep kode, sementara yang lelaki merasa si perempuan ini sedang meragukan keseriusannya.

Lalu kenapa ya, pacaran bertahun-tahun tapi si pacar belum kunjung melontarkan pertanyaan “Will You Marry Me?” yang ditunggu-tunggu itu? 
Sebelumnya, saya mau bertanya dulu pada Anda.  
Pernahkah Anda dan pasangan membicarakan pernikahan sebelumnya?  
Karena pernikahan itu real.  Nyata.  Tak seperti di film-film komedi romantis, di mana si lelaki tiba-tiba bisa membelikan Anda cincin berlian lalu mengajak Anda jadi istrinya tanpa pernah berdiskusi tentang pernikahan sebelumnya.

Kalau dipikir-pikir, jalan menuju pernikahan di kehidupan nyata itu sungguh nggak romantis.  Apalagi di Indonesia.  Pertama, pendekatan, lalu pacaran.  Selama pacaran saja mungkin si lelaki nggak ditanya oleh kita tapi udah diteror duluan sama ortu kita dengan pernyataan: 
“Pacaran terlalu lama itu nggak baik, kalau sudah sama-sama cocok, lebih baik segera diresmikan saja.”  Klasik ya. 

Sebagai perempuan Indonesia harusnya kita merasa beruntung di bagian ini, karena jika ortu yang bertanya, tentu beban kita sedikit berkurang.  Minimal tahu di mana si pacar berada dalam hubungan ini tanpa perlu berkorban harga diri.  Tapi kalau punya ortu yang pun sama gengsiannya dengan anaknya?  Ya mau nggak mau kembali lagi deh berjuang sendiri berusahan bertanya, tanpa membuat si pacar merasa tertekan.

Agar tak terlalu banyak bertanya-tanya dalam hati, cara yang paling efektif biasanya adalah ajak pacar Anda berdiskusi tentang masa depan hubungan cinta.  Alih-alih memberi ultimatum untuk dinikahi besok, tanyakan padanya tentang pandangannya soal pernikahan, anak, keuangan dan mengobrollah dengan bebas.  Ceritakan padanya soal pandangan-pandangan Anda, keinginan-keinginan Anda dan idealisme Anda soal hubungan ini.
Pertanyaan berikutnya: kapan saya bisa menanyakan hal ini padanya?
That depends.
Orang yang paling mengenal pacar Anda bukan saya, tapi ya Anda sendiri.  Beberapa lelaki tak mempermasalahkan pertanyaan ini jika muncul di bulan kedua berpacaran.  Beberapa lelaki lainnya sudah 5 tahun berpacaran masih bergidik jika diajak diskusi soal komitmen. 
Mengenal karakternya adalah tugas kita sebagai pacar, bukan begitu? 
Kalau ‘mainframe’ hubungan ini sudah ada di kepala masing-masing, ternyata menghadapi pertanyaan-pertanyaan kepo gak penting serupa “Jadi Kapan?” di acara-acara kondangan, ternyata lebih mudah lho.  Anda tak perlu lagi misuh-misuh atau malah menggunakan kesempatan untuk memancing jawaban dari si pacar.  Anda akan dengan hati ringan dan senyum terkembang menjawab, 
“Doakan saja, sudah dalam rencana.”  Pacar pun tenang tanpa merasa tertekan mendampingi Anda.

Satu lagi yang paling penting:

Walau setelahnya Anda menikah dengan lelaki idaman Anda, mari kita buang kebiasaan sialan yaitu bertanya pada mereka yang masih single, “Jadi… Kapan?”.  
Have some empathy, Anda pernah terganggu dengan pertanyaan ini, bukan?  Jadi, jangan ganggu teman-teman lajang Anda dengan pertanyaan yang sama. 
Lagipula, jika Anda sudah menikah, ketimbang mengganggu teman lajang Anda, lebih baik Anda berkonsentrasi mencari jawaban untuk pertanyaan kepo baru yang saya jamin akan membuat Anda sama kesalnya atau mungkin lebih.  Pertanyaan itu adalah:
“Udah isi atau belum?”
Ha!
Category: 0 komentar

Kekasih di Masa Depanku

Kepada senyawaku…

Hai sayang, saat kau membaca surat ini. Ya, tentu saja aku sudah bersamamu. Membuatkanmu kopi tiap pagi, menyiapkan sarapan ,dan merapikan bajumu, dan segala tindakan menyenangkan lain.
Tahukah kamu, saat ini apa yang kurasakan? Ya… Saat ini aku memang sedang berada di sebuah persimpangan dan lalu menempuh jalan yang sama hingga merenta dan menutup usia.
Aku di saat ini belum tahu seperti apa rupamu, apakah kau mancung atau pesek. Tapi yang jelas, ketika kau membaca ini, sungguh aku tak peduli. Hidungmu, nafas yang keluar dari situ sudah menjadi bagian dari nyawaku.

Aku di saat ini mungkin belum tahu jelas bagaimana suaramu, tapi aku yakin saat kau baca surat ini. Suaramu adalah nada terindah yang kuingin selalu tertiup di telingaku.
Aku di saat ini mungkin belum tahu bagaimana bentuk matamu, tapi aku yakin saat kau baca ini. Matamu adalah pnacaran sinar, yang menerangkan setiap langkahku.
Oh, kekasih hati sampai mati.

Saat aku menulis ini, aku memang masih sendiri, tapi tak mengapa. Aku menikmati rasa ini, karena akan ada ribuan hari yang akan kujalani dengan tak sendiri nanti. Ya, bersamamu tentunya. Sedetik kutunggu, selangkah kau mendatangiku. Bersamaan itu, kusiapkan hati agar kau tahu. Aku selalu menjaganya hati-hati. Untukmu.

Saat kau membaca ini. Kau, satu-satunya yang kutunggu. Terima kasih atas segala waktu yang terlewati. Aku mencintaimu, dari dulu, kini, dan nanti.
Salam sayang, dariku kini. Senyawamu, bertahun-tahun lalu.
NB: Selesai kau baca ini, ciumlah aku :-)
(Sadgenic by Rahne Putri, pg.116)
Category: 0 komentar

Kumpulan Sadgenic

Andai jatuh itu mudah, pasti hatiku tidak lebam sendiri seperti ini.
Ini lebam karena tanda tanya.
Iya, aku pasrah ditinju tanda tanya.
Sungguh aku ingin menumbuk tanda tanya,
lalu diseduh dengan gula dan kopi,
terlarut dalam cangkir dan kusesap hingga tetes terakhir.
Jika kamu ingin tahu, jumlah tanda tanya di kepalaku ini rasanya sebanding dengan jumlah bayangmu di thalamus.
Boleh minta tolong untuk terakhir kali?
Beri aku satu pasti dan semua tanya akan mati.

 

 

TERLALU DINI

Terlalu dini untuk sakit hatiAda cerita yang belum siap untuk patah lagi
Ada malam yang terus menolak sepi
Terlalu dini untuk tersesat lagi
Ada langkah yang lelah mencari
Ada nafas yang terengah dan menggema di sanubari
Terlalu dini untuk kehilangan kamu..Ada damba yang tak ingin lepas
Ada rindu yang tak ingin kandas
Ah, tapi saat kamu pergi aku juga diamAda kata yang menjadi pinta yang menisankan diri
Hanya harap kamu berbalik dan kembali dalam hati
Dia memenjarakan ku
Ketakutan menyergap kepala ku
Bagaimana cara bertemu kamu?
Harus berjalan atau berlari?
Aku takut kamu terlewat
Dan aku mencarimu lagi
Sendiri…
(Source: rahneputri.com)




Ada saat dimana kita tidak perlu menoleh ke belakang.
Jangan lihat lagi apa yang sudah ikhlas kita tinggalkan.
Aku percaya,itu akan meringankan langkah,
untuk menjemput sesuatu yang baru.
Sesuatu yang lebih melegakan.
Sesuatu yang membuat kita bersyukur, karena menjemputnya dengan tangan yang sengaja sudah dikosongkan.
Sungguh itu tak semudah bernafas.
Aku berdiam terlalu lama untuk menahan diri tidak menoleh ke belakang.
Saat aku berhenti, waktu tak ikut menemani.
Dia terus berjalan.
Pilihanku, tertinggal jauh di masa lalu atau kukejar waktu dengan harapan.
Kuputuskan untuk mengejar waktu,
semoga tak tersandung lagi oleh bayanganmu.
Dan…
Semoga Aku tak berjalan mundur..

Sadgenic – Rahne Putrri


Ini Aku

Aku punya satu kepala, ribuan kamu di dalamnya.
Aku punya satu hati, menunggu untuk kau diami.
Aku punya dua telinga, suaramu yang kucerna.
Aku punya mata, terlukis bayangmu di dalamnya.
Mulutku hanya satu, dia melengkungkan senyum, kepadamu.
Aku punya bahu, silahkan bersandar disitu. Semaumu.
Aku punya dua lengan, kulingkarkan dalam peluk hingga akhir jaman.
Jemari tanganku ada sepuluh.
Sayang, mereka mati rasa, dan baru hidup jika digenggammu.
Kau lihat jari manisku?
Ia menunggu lingkar janji, sehidup semati.
Aku punya dua lutut, mereka bertekuk di hadapanmu dengan satu senyum maut.
Aku punya dua kaki. Semuanya menujumu. Kamu mau diam? Atau lari mendekatiku?
Milyaran sel darah merahku, semua berdesir dan meluap-luap.
Melukis pipiku, menjadi merah jambu. Di dekatmu.
Milyaran sel di otakku, boleh Kau ambil Tuhan, tapi tolong sisakan satu. Ingatan tentang kamu.
Epidermis kulitku, sekujurnya, menunggu terlapis hangat pelukmu.
Tuhan hanya punya satu surga, kamu pasti salah satu contohnya.
Nerakaku, jutaan senti berjarak darimu.
Doaku, kau berbahagia di setiap langkahmu, dalam iringanku.
Jutaan anak rambutku berseru rindu.
Usap telapak tangan lembutmu.
Pelukanku hangat, entah berapa suhunya.
Kalikan jutaan dekap untukmu.
Kini, sudah melelehkah kau dekatku?
Kamu, pasti berkelenjar air mata. Di dekatku, takkan kubiarkan jatuh, walau setetes saja.
“Karena kau ganjil, dan aku beserta jiwaku akan berusaha menggenapinya.”
Category: 0 komentar